Narasumber : Niesa Handayani, S.Psi., PGD

S1 Psikologi, Universitas, Tarumanegara, Jakarta| S2 Childhood Education LeedsBecket Univ, UK| Pemilik Rumah Pendidikan BIMBA AIUEO Sinbad, Bogor| Konsultan Pendidikan dan Perkembangan Anak | Penulis Rubrik dan Artikel Seputar Dunia Anak | Terapis Grafis dan Crinical Dooodle untuk Anak.

 

Anak adalah Anugerah Terindah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Langkah-langkah awal menumbuhkan kepercayaan diri pada anak :

  1. Kenali kebiasaan anak sehari-hari. Misal : Cara meminta minum, makan dan bermain.
  2. Identifikasi yang disukai dan tidak disukai oleh anak. Misal : Tertawa bila melihat ekspresi muka lucu.
  3. Jangan pernah membedakan dengan saudara atau temannya yang bukan ABK. Misal : Biarkan anak mencoba makan sendiri.
  4. Ajak dalam setiap kegiatan/ interaksi. Misal : Ajak anak ke taman public.
  5. Keluarga (Orang tua) adalah supporter terbesar dalam menumbuhkan kepercayaan diri seorang anak.

 

Tips Tingkatkan Percaya Diri melalui Pembiasaan Ketrampilan :

  1. Luangkan waktu dan kualitas kegiatan bersama anak.
  2. Berikan “Positive Reinforcement”untuk setiap aktivitas yang dilakukan anak.
  3. Berikan kesempatan untuk mengerjakan hal yang mengandung tanggung jawab.
  4. Libatkan kegiatan bersama komunitas.
  5. Focus dan konsisten pada proses.

 

 

QUESTION AND ANSWER

 

Q : “Anak saya usianya 6,5 tahun menuju 7 tahun Februari besok. Sosialisasinya bagus tapi untuk kemandiriannya kok rasanya agak sulit. Masih pake pampers. Baru berani duduk di wc waktu umur 5 tahun. Terus dia juga banyakan takut disuruh mencoba sesuatu. Gimana cara mengatasinya?”

A : “Terima kasih untuk pertanyaannya. Wah …, luar biasa sosialisasinya sudah oke di usianya yang masih 6.5th. Untuk kemandirian memang anak istimewa perlu bertahap penanganannya. Yakinkan dan beri kesempatan serta tanggung jawab pada anak kita untuk melakukan tugas sederhana. Apa yang disenangi oleh anak kita. Berikan pujian ketika menyelesaikan tugas. Dan ulangi sampai terampil, sekecil apapun usahanya.

Mengenai masalah pakai pampers, terkait karena belum pede. Untuk mengatasinya coba bila di rumah atau misalkan lagi menginap di rumah kakek nenek, untuk daytime (waktu bukan tidur) biasakan tidak pakai pampers (Maaf, bila pipis atau buang air di baju dalamnya dengan bahasa yang lembut katakan, “Tidak apa-apa,” sambil mengajak ke kamar mandi. Dan beritahukan pada anak kita beritahu bunda bila ingin ke kamar kecil) Hal ini harus dilakukan berulang, konsisten dan penuh kesabaran.

Q : “Yang kedua… sekarang dia masih sekolah di TK umum. Pengennya tahun depan nggak di sana lagi tapi lebih maju ke tingkat yang lebih khusus. Tapi saya bingung sekolah seperti apa yang cocok untuk dia?”

A : “Coba bunda kenali dulu apa yang disukai atau yang membuat anak kita happy, “berbinar-binar istilahnya”. Dari sini baru diketahui ketrampilan yang dimiliki sehingga akan lebih mudah pencarian sekolah yang tepat untuk anak kita.

***

Q  : “Anak saya sudah saya ajarkan mandiri sedikit-sedikit, seperti buka baju, makan, mandi dll. Walau belum sempurna. Dan melakukannya suka tidak fokus atau setengah-setengah. Seperti saat makan hanya beberapa suap. Saat mandi malah mainin air atau barang-barang di kamar mandi. Kadang saya suka nggak sabaran. Langkah-langkah dan bagaimana cara mengajarkan kemandiriannya, karena sudah dicontohkan, dijelaskan ya masih suka gitu.”

A : “Pastinya memang butuh kesabaran ekstra untuk anak-anak kita yang istimewa. Bukan hanya kesabaran tapi juga hati yang sangat luas ketika akan men-supportnya untuk mandiri. Satu hal yang perlu diingat. Jangan pernah buat target apa yang harus dicapai oleh anak-anak kita. Tapi apa yang sudah bisa dilakukan oleh anak-anak berilah positive reinforcement. Misalkan tadi bunda katakan sudah mulai bisa fokus walau setengah, tidak apa yang setengah itu tetap diapresiasi. Wuahhh …. hebat nih anak bunda sudah bisa makan 6 suap. Yuk, tambah 2 suap lagi biar kuat nanti mainnya.”

***

Q : 1.Bagaimana melatih anak agar mandiri agak sulit kata-kata andalannya “Bunda, abang ndak bisa.”

  1. Anak susah untuk diajak berbaur dilingkungan sekitar rumah, tapi ketika di tempat umum (taman bermain) dia berani untuk bertemu teman sebaya, walaupun dia belum bisa ngikutin teman-temannya main. Anaknya ceriwis tapi masih sulit untuk dipahami komunikasi verbalnya kalau orang tidak biasa ketemu dan motoriknya kasarnya bisa dibilang lebih lincah anak usia 2 tahun jadi seringnya dia cuek dengan teman tapi asyik main sendiri, dan kadang terlihat kesal kalau orang lain tidak memahami yang dia maksud. Apa yang bisa dilakukan untuk membuat dia percaya diri untuk dapat berbaur? Apakah memasukkan di KB bisa membantu?”

A: “Pertanyaan 1.Benar Bunda ketika kita terbiasa apa-apa melayani anak, otomatis anak menjadi dependent, tergantung. Karena merasa “ahh nanti ada bunda kok” Yang perlu dilakukan jangan langsung membuatnya mandiri seketika itu, tapi bertahap. Misalkan yang tadinya makan disuapi, minum diambilkan. Langkah awal, makan bolehlah masih disuapi, minum belajar ambil sendiri. Besok-besok makannya suap sendiri. Tapi biasakan makan di meja makan bersama-sama dengan anggota keluarga yang lainnya agar ada contoh.
Pertanyaan 2, nah ini jagoan di luar. Saat ini memang usianya mengobservasi teman-temannya. Apa yang sedang dilakukan sih. Caranya gimana biar orang lain paham? Mungkin saya lebih senang bila, bagaimana agar anak kita happy ketika bicara dengan temannya dan dapat berbaur? Ketika di rumah banyaklah mengajak komunikasi, tanya tadi main apa saja? Terus gimana mainnya? Apa yang disukai? Apa yang tidak disukai? dan usahakan oleh bunda ucapkan bahasa komunikasi yang tepat untuk melatih ketrampilan bahasanya. Contohnya misalkan anak mengucapkan kata mobil dengan bahasanya sendiri “ngeng ngeng” ulangi kembali. “Mobil ya” Iya memasukan ke taman bermain merupakan alternatif yang cukup baik, trial dulu ya dan pilih yang ramah anak.

***

 

Q : “Anak saya memang belum bisa bicara karena tumbuh kembang yang terlambat. Karena itu anak saya harus rutin terapi. Yang jadi agak berat buat saya, anak saya seperti trauma dengan terapisnya. Jadi kalau sudah lihat terapisnya (padahal belum mulai terapi). Anak saya menangis memberontak. Pertanyaan saya, apa saya perlu cari terapis lainnya (pindah tempat terapi) atau diteruskan saja ya?”

A : “Ini pengalaman dan pendapat saya pribadi ya bunda. Jadi boleh bila tidak sependapat mencari second opinion. Saya akan langsung secepatnya mencari terapis lain. Karena yang terpenting anak butuh nyaman dan happy saat terapi. Terapi saja sudah usaha yang sangat besar untuk anak-anak istimewa kita, ditambah harus adapatasi dengan terapisnya. Buat saya, terapis yang harus bisa mendekatkan diri dengan anak. Setelah anak nyaman dan happy akan lebih mudah mengikuti terapi yang akan dilakukan. Tidak perlu khawatir dan galau. Anak kitalah yang utama. Dulu pengalaman saya pribadi, bahkan saya pernah tegur terapisnya.

“Bu, suaranya boleh ya dipelankan sedikit karena anak saya kurang nyaman dengan suara kencang.”

Selama kita bicara baik-baik, terapis akan mengerti. Tapi kalau tidak berubah juga cari terapis yang membuat anak kita nyaman dan senang.

***

Q : “Anak saya saa ini usianya 9 tahun dengan gangguan hearing loss, baru memakai ABM (alat bantu mendengar) diusia 6 tahun. Komunikasi masih terus dikejar. Dia hobi musik dan menari. Tapi semakin besar kok dia suka semua kegiatan? Misalnya di sekolah ada ekskul futsal, dia jadi suka main bola, terus nanti ada balet, dia juga suka balet. Apakah ini ada faktor dari usia dengarnya yang masih dua tahun? Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk menanggapi “kekepoan” anak saya?”

A : “Biarkan saja. Jangan dibatasi bila anak kita suka dengan pelbagai kegiatan. Ini saatnya untuk anak-anak eksplorasi hal-hal baru. Yang perlu diperhatikan adalah akan ada ekspresi atau cerita yang berbeda dari tiap kegiatan yang anak kita ikuti. Dari sanalah kita mulai bisa memilah mana porsi yang lebih dipilihkan atau diprioritaskan. Kalau keponya sepertinya ini dari faktor lingkungan yang ditiru dan banyaknya kegiatan. Tapi selama masih positif oke kok. Kepo kan berarti mau cari tau apapun.

***

Q : “Mungkin pertanyaaan ini di luar tema, tapi masih ada hubungannya dengan kepercayaan diri ABK. Hampir kebanyakan kalau ABK bertemu dengan orang lain, entah itu saudara atau umum. 80%masih suka berkomentar, “Aduh … Kasian ya anaknya.”

Bagi ABK dewasa dan keluarga kata “kasihan” ini cukup mengganggu baik buat ABK-nya maupun dengan keluarga,bagaimana cara menyikapi dan memberikan pengertian tentang arti kata KASIHAN?”

A : “Jangan pernah sungkan ketika kita membawa anak-anak istimewa kita ke lingkungan umum. Bila perlu jelaskan dengan senyum termanis tentang apa yang dialami oleh anak tapi tidak perlu secara detail. Cukup gambaran umum, dan untuk mengakhiri percakapan selipkan kata “Tolong doakan ya agar anak saya perkembangannya semakin baik dan sehat.”

Lalu untuk ke anak kita, yakinkan bahwa setiap anak itu luar biasa dengan masing-masing potensinya.

Jika ada orang lain yang mengatakan hal yang tidak baik tentang anak kita. Mengenai kekurangannya, yang berhubungan dengan kondisi fisiknya. Besarkan hati anak Anda dengan berkata, “Kamu bukan berbeda, tapi kamu istimewa. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.”

Support yang besar dari kedua orang tua akan menumbuhkan kepercayaan diri pada anak.

Q : “Bagaimana merubah kata kasihan ini bisa menjadi vitamin penyemangat. Khususnya buat ABK?”

A  : “Ini contoh sedikit dari hal yang bisa kita tiru betapa kepercayaan diri yang dibangun dan ditumbuhkan oleh orangtua adalah sangat besar bagi anak. Keluarga (orangtua) adalah suporter terbesar dalam menumbuhkan kepercayaan diri. Sehingga ia akan bisa menghadapi hal tersulit sekalipun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *