FRIENDLY STRESS:

Bersahabat dengan Stress

 

Narasumber: Dr. Widya Eka Nugraha, M.Si. Med.

RS Medika Dramaga Bogor | Klinik Harapan Ibu Bogor | Indonesia Rare Disorders

 

 

DISCLAIMER:

Sejak kecil saya bercita-cita memiliki kekuatan super. Apa itu? Bukan terbang, mengeluarkan sinar laser, atau kemampuan menghilang. Tetapi, touch of happiness, kemampuan untuk menyerap kesedihan dan membahagiakan orang lain dengan satu sentuhan.

Semakin dewasa, saya menyadari bahwa kita tidak membutuhkan kekuatan super untuk menjadi bahagia. Yang kita butuhkan hanya sedikit keberanian memutuskan untuk berbahagia, detik ini juga.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai terapi bagi kondisi psikologis anda. Jika anda merasa butuh, silakan berkonsultasi dengan psikiater/psikolog. Pada akhirnya, kita tidak butuh superhero dengan touch of happiness. The superhero is within us.

***

 

MEMAHAMI STRESS

Stressor adalah semua hal yang menyebabkan seseorang harus beradaptasi. Stress terjadi ketika fisik dan mental kita gagal beradaptasi dengan stressor yang dihadapi. Stressor sendiri dibagi menjadi dua jenis: fisik dan mental.

Stressor bersifat netral. Namun, masyarakat cenderung mengaitkan hal-hal negatif sebagai stressor. Contoh: ditinggal pasangan hidup, kehilangan pekerjaan. Padahal, hal-hal positif seperti: punya anak, naik pangkat, juga merupakan stressor yang dapat menyebabkan seseorang jatuh ke dalam kondisi stress.

Salah satu respons awal fisiologis kita dalam menghadapi stress adalah mengaktifkan HPA axis (hypothalamus-pituitary-adrenal). HPA axis adalah sumbu di dalam sistem saraf-endokrin kita yang salah satu fungsinya adalah memicu respons fight or flight. Fight artinya hadapi stressor. Flight artinya tinggalkan stressor.

Tidak semua stressor dapat mencetuskan sistem HPA axis. Orang dengan ambang stress yang tinggi maka HPA axisnya tidak mudah teraktivasi. Demikian juga sebaliknya berlaku bagi orang yang ambang stressnya rendah, HPA axisnya mudah teraktivasi atau dalam bahasa awamnya: panikan.

Kebanyakan orang bermasalah dengan stress karena menghadapi stressor yang harus ditinggalkan dan/atau meninggalkan stressor yang harus dihadapi. Contoh: bertengkar dengan pasangan untuk hal-hal kecil yang tidak penting atau menunda-nunda pekerjaan yang harus dikerjakan sehingga menumpuk.

***

 

BERSAHABAT DENGAN STRESS

Seni menghadapi stress adalah kemampuan untuk dengan tepat memilih mana stressor yang layak dihadapi dan mana yang harus ditinggalkan.

Walaupun setiap orang memiliki ambang stress yang berbeda-beda, namun secara umum kita harus meninggalkan stressor fisik yang menyebabkan kita tidak bisa beristirahat dengan optimal. Dan kita harus meninggalkan stressor mental yang menyebabkan kita mengalami kesedihan terus-menerus.

Perlu diingat bahwa stress dibutuhkan dalam jangka waktu dan kadar tertentu agar kita mampu mengeluarkan potensi terbaik yang kita miliki. Artinya, ketika kita mampu menangani stress dengan benar, maka potensi terbaik kita akan muncul.

Nah, bagaimana caranya menangani stress dengan benar?

 

  1. KENALI STRESSOR ANDA.

Banyak orang keliru mengenai stressornya.

Contoh: anak saya memiliki kondisi langka sehingga saya stress. Stressor: anak saya. ❌❌❌

Keliru besar! Apapun yang terjadi, anda tidak akan bisa mengubah kondisi anak anda dengan serta-merta. Semua butuh proses. Nikmati dan jalani, maka anda tidak perlu merasa stress lagi.

Bagaimana mengenali stressor?

Contoh: anak saya mengalami kondisi langka. Saya stress karena: tetangga mencemooh saya. Orangtua menyalahkan saya. Hubungan suami-istri tidak harmonis setelah kehadiran buah hati. ✅✅✅

Ini adalah contoh sederhana mengenali stressor yang benar.

 

  1. BERTINDAK PROAKTIF DAN KOLABORATIF

Bertindak proaktif-kolaboratif dalam menghadapi stressor merupakan bagian paling berat sekaligus penting dalam proses ini.

Contoh:

Hasil identifikasi stressor:

  1. Tetangga mencemooh. Tindakan proaktif dan kolaboratif: Undang tetangga untuk menghadiri pengajian atau silaturahim di rumah sekaligus menjelaskan kondisi anak. Hadirkan pembicara yang paham dengan kondisi anak sehingga tetangga tidak lagi mencemooh.
  1. Orangtua menyalahkan saya atas kondisi anak. Tindakan proaktif dan kolaboratif: ajak orang tua menemui dokter untuk mendapat penjelasan langsung mengenai penyebab kondisi anak. Bila tidak mempan juga, maka usahakan agar bisa hidup mandiri sehingga tidak bergantung kepada orangtua.
  1. Hubungan suami-istri tidak harmonis. Tindakan proaktif-kolaboratif: datangi konselor pernikahan bersama pasangan. Atau undang pemuka agama untuk memberikan nasihat tentang pernikahan.

 

  1. PELIHARA GAYA HIDUP RENDAH STRESS

 Gaya hidup rendah stress pada dasarnya meliputi:

  1. Pola makan sehat
  2. Istirahat cukup
  3. Olahraga teratur
  4. Komunikasi positif
  5. Tersenyum, tertawa, menangis
  6. Hobi dan pengembangan diri
  7. Bersyukur dan beribadah

***

 

PENUTUP

Jika anda disakiti oleh atasan, kekasih, atau pasangan hidup anda, baik secara verbal maupun fisik, lantas mengalami stress berkepanjangan sebagai akibatnya, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional (psikiater/psikolog).

Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada seorang hamba-Nya melebihi dari kesanggupan si hamba untuk menanggung cobaan tersebut. Tetapi jangan lupa, bahkan para Nabi pun bekerja-sama dengan orang lain dalam menanggung ujian dan cobaan dari Tuhan.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

—————————————————————————–

QUESTION & ANSWER

 

Q  : Terima kasih materinya, dok. Untuk “Pelihara gaya hidup rendah stress, beberapa agak susah ya, seperti istirahat cukup, pola makan sehat, olahraga teratur, hobi, dll karena nyaris tidak punya waktu untuk diri sendiri. Saya sendiri kalau lagi lelah sekali, cepat sekali stress, bagaimana mengatasinya ya? Mau istirahat pun tidak bisa karena banyak yang mau dikerjakan.

A  : Sama-sama. Kalau boleh tahu, mengapa sampai tidak bisa punya waktu untuk diri sendiri?

Q  : Mengurus anak saya memakan banyak waktu, memberi minum dan makan karena kesulitan menelan bisa memakan waktu sampai  2 jam sendiri. Saya juga mengurus dua kakaknya, beres-beres rumah, memasak, dll. Saya baru bisa mengerjakan yang lain setelah anak saya sudah selesai makan atau minum, dan kadang itu terburu-buru karena mengejar jadwal makan/minum selanjutnya. Saya sering telat makan karena itu.

A  : Apakah ada ART?

Q  : Tidak ada dok, budget kami terbatas. Semua sendiri.

A  : Saya sangat menyarankan untuk memiliki ART yang khusus mengerjakan pekerjaan rumah, terutama cuci piring dan pakaian. Itu akan sangat membantu mengurangi stress akibat pekerjaan rumah tangga.

 

*************************

 

Q  : dr. Widya, anak saya kan punya adek usia 2 tahun, anak pertama usia 4 tahun. Dua anak ini suka rusuh melulu selama 24 jam. Sepulang kantor harus menghadapi dua anak yang selalu saling usil, yang efeknya saya jadi stres sendiri. Kalau begitu musti bagaimana ya, dok?

A  : Salah satu ciri gaya hidup rendah stress adalah bersyukur dan beribadah. Apakah keberadaan anak-anak kita sudah disyukuri? Apakah kita menyadari sepenuhnya kalau merawat anak-anak adalah ibadah?

Ketika anak-anak kita mulai bertengkar, mulailah tersenyum, lantas tertawa. Peluk mereka. Ucapkan syukur karena mereka cukup kuat untuk bertengkar.

Saya mohon maaf belum bisa memberikan saran yang lebih baik dari ini, karena belum pernah mengalami seperti apa yang Ibu alami.

Q  : Iya, dok. Terima kasih sarannya. Jawaban di kalimat terakhir bikin ketawa. Alhamdullilah bahagia dengar jawaban dokter.

 

*************************

 

Q  : Terima kasih materinya, dok. Alhamdulillah lingkungan sangat mendukung untuk saya mempunyai anak yang special. Memang yang paling penting me time biar tidak terlalu stress. Simple sekedar ke coffee shop sendirian atau sama teman 2 jam saja. Namun mood kadang-kadang naik turun. Sudah happy tiba-tiba drop. Ya Tuhan mengapa harus saya? Tapi biasanya cuma sementara, disertai dengan PMS. Tapi akhir-akhir ini saya mempunyai pikiran yang jauh ke depan. Duh, kalau saya meninggal, anak saya sama siapa ya? Selama ini dia tergantung sekali sama saya. Nanti sosialisasinya bagaimana dengan teman-temannya. Kalau sudah besar bagaiamana jika dia dibully, dll.

Bagaimana mengatasi pikiran yg seperti itu, dokter Widya? Terlalu cemas berlebihan. Sekian. Terima kasih banyak.

A  : Sama-sama. Ini adalah peran penting dari support group seperti IRD. Ke depan kami berencana untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ingat: mengambil tindakan proaktif-kolaboratif. Salah satunya adalah dengan melibatkan para orang tua super di IRD ini untuk membuat gerakan pemberdayaan odalangka. Mudah-mudahan segera terwujud ya. Aamiin.

Untuk saat ini, silakan nikmati masa2 indah bersama anak ibu. Jangan terlalu memikirkan masa depan sendirian. Ke depan kita akan sibuk membangun masa depan mereka.

Q  : Betul sekali dok. Kebetulan saya diundang ke sebuah  produk anak kecil dimana yang special need hanya anak saya. Di situ saya menerangkan dengan baik-baik kalau anak saya tidak menular dan tidak membahayakan ke orang tuanya jadi silahkan rangkul anak saya. Alhamdulillah semua anak kecil mau main dengan anak saya. Bahkan mereka lupa kalau anak saya itu  beda dengan mereka. Berpelukan. Duh rasanya terharu.

 

*************************

 

Q  : Dok, saya sejak punya anak pertama yang lahir sehat sampai anak ke-2 yang ABK suka merasakan kekhawatiran yang berlebihan kalau ditinggal hanya berdua dengan anak. Khawatir menyakiti anak, dll. Apakah ini baby blues?

        Dan sejak ada anak kedua, kalau lagi menggendong di tempat umum, suka khawatir akan terjadi sesuatu, bukan karena saya, tapi karena lingkungan dan orang lain, kadi tidak bisa santai. Normalkah?

        Satu lagi. Sejak ada anak kedua, suami jadi sering sakit. Yang dulu anti obat, sekarang kalau sakit, baru merasa enakan kalau sudah ke dokter. Apakah ini stress? Maaf banyak curhatnya

A  : 1. Bukan baby blues.

  1. Tidak normal.
  2. Sangat mungkin stress.

Mohon maaf, ini mungkin sedikit keras. Apakah Ibu siap mendengarnya?

Q  : Siap dok.

A  : Lawan perasaan itu!

Memang betul, mungkin saja apa yang Ibu rasakan adalah Baby Blues. Tetapi, saya optimis bahwa ini hanyalah sekadar perasaan sementara (belum sampai ke BBS).

Tunjukkan cinta-kasih Ibu terhadap anak kedua ibu dengan menggendongnya sesantai, sehappy, dan sepede mungkin. Kalau perlu cetak kaos #gwlangka untuk sekeluarga. Pamerkan di depan umum.

Saya curiga Ibu dan suami menggunakan mekanisme pertahanan jiwa yang sedikit keliru dalam menghadapi stressor yang ada. Ini harus diluruskan terlebih dahulu. Kapan2 kita bahas tentang mekanisme pertahanan jiwa ya? Terima kasih.

Q  : Siap, dok. Akan coba dilawan. Berarti solusinya bikin kaos.

        Serius: harus lebih bersyukur + ibadah. Jazakallah khoir, dok

 

*************************

 

Q  : Sering berdebat di depan anak dan anak mendengar itu apa bisa membuat anak stres ya, dok?

A  : Ya, betul. Sudah tahu cara mengatasinya?

Q  : Bagaimana ya, dok? Sering tidak bisa menahan diri di depan anak.

A  : Ini maksudnya berdebat dengan suami ya?

Q  : Iya, dok. Belum lagi kalau waktu main ke rumah neneknya. Neneknya juga suka berdebat. Bagaimana caranya supaya anak saya tidak tertekan dengan kata-kata perdebatan yang belum dia paham? Kalau bundanya lagi stress, apa anak juga bisa merasakannya, dok?

A  : 1. Jangan bertengkar dengan suami di depan anak.

  1. Jika pertengkaran terlalu sering dan tidak dapat dihindari, saya sangat menyarankan untuk berkonsultasi dengan orang yang berpengalaman, misal: konselor pernikahan.

Pertengkaran suami-istri seharusnya menjadi ajang untuk ‘berantem-beranteman dan manja-manjaan’. Jangan sampai menjadi hal yang traumatis bagi anak.

Q  : Ya, dok. Terkadang kalau kami lagi berdebat, anak saya suka kayak teriak. Teriaknya seperti menyuruh berhenti berdebat. Terima kasih atas saran dan jawabannya, dok.

 

*************************

 

Q  : Kalau saat stress/sedih biasa lihat gambar gothic yang menakutkan buat orang lain, kemudian merasa lebih baik. Rasanya seperti tersalurkan dan emosinya turun. Dari dulu memang begitu. Harusnya tidak boleh ya? I know I’m weird.

A  : Ini masuk ke gaya hidup rendah stress nomor 6. Hobi dan pengembangan diri.

 

*************************

 

Q  : Momen stress saya adalah ketika orang tua saya menerima cucunya terlahir special. Mereka berusaha menguatkan saya pasca melahirkan, membanggakan hati saya, walaupun saya tahu di mata mereka “ada rasa” kecewa. Saya takut, apa nanti kata org, apa nanti kata saudara-saudara. Saya takut keluarga saya akan mendapatkan perilaku sosial yang tidak ramah dikarenakan cucu pertamanya.

        Karena itu anak saya belum terlalu saya bawa kemana-kemana, yang melibatkan keluarga besar saya, terutama dari pihak ayah anak saya. Tanggal 2 September besok, abang iparku menikah, otomatis anak saya dibawa ke pesta pernikahan tersebut. Aku harus bagaimana? Ada yang merasa begitu atau tidak ya?

A  : Hadapi. Pasti bisa. Terkadang, justru kekuatan itu datang dari anak ibu sendiri.

Kalau keluarga ada yang marah, menyalahkan, menghina, tidak apa-apa. Kan sedih? Pastinya. Ingin menangis? Menangis saja. T      idak ada yang melarang kan?

Jangan pikirkan apa kata orang, saudara, dan seterusnya. Tidak ada habisnya.

Pikirkan perkataan saya:

Bagaimana mungkin menciptakan lingkungan yang baik untuk anak kita yang odalangka, kalau kita sendiri masih malu menunjukkannya?

Q  : Menusuk ke hati sekali ini, dok.

A  : Mohon maaf, tapi harus. Supaya kita semua diberi kekuatan untuk memperjuangkan anak-anak kita.

 

*************************

 

Q  : Bagaimana menghadapi stress tiap kali anak masuk RS? Saya merasa stress mental mempengaruhi fisik (rasa mual, leher tegang, sakit kepala) tiap mendengar pernyataan dokter. Saya sungguh menghargai kejujuran mereka, tapi kerap tak mampu mengelola respons kognitif.

        Contoh: Dua hari lalu dan kemarin ketemu dokter bedah dan anestesi, pernyataannya kurang lebih sama bahwa operasi yang akan dihadapi anak saya minggu ini adalah operasi dengan risiko tinggi. Tubuh bisa dekompensasi, gagal menyesuaikan dengan kondisi baru setelah VSD besar ditutup. Faktor risikonya bertambah karena anak saya ada infiltrat di paru-paru dan PH. Stressornya menurut saya adalah ketakutan memikirkan bahwa meski anak saya sekarang dalam kondisi relatif baik, bila operasi gagal, saya tahu bahwa saya berkontribusi dengan mengambil (menyetujui) keputusan ini baginya.  Saya pernah sekali kehilangan anak, lahir prematur, dokter tidak ada di RS saat ketuban pecah. Selama beberapa bulan mengalami panic attack tiap kali ke rumah sakit, sampai akhirnya mendapat cipralex selama beberapa bulan dari psikiater. Ketakutan terbesar sebagai ibu yang saya rasakan adalah kegagalan melindungi dan memberikan kualitas hidup yang baik bagi anak saya.

A  : Saya mau galak lagi boleh tidak? Apakah ibu siap?

Q  : Silakan, Dok.

A  : Jangan ambil tugas Tuhan.

Tidak akan ada dokter yang mau menganestesi atau mengoperasi kalau mereka tidak mengambil risiko tinggi menyelamatkan nyawa orang. Menurut anda, mengapa mereka mengambil risiko?

Karena mereka percaya bahwa HIDUP MATI DI TANGAN TUHAN.

Tugas kita adalah melakukan yang terbaik. Jemari dokter yang membius, pisau bedah yang menyayat, tanda tangan di atas kertas hanyalah sarana untuk melakukan yang terbaik.

Tidak ada kata salah selama semua prosedur telah dilakukan. Kalau berhasil, itu kuasa Tuhan. Kalau diambil, itu juga kehendak Tuhan.

Tuhanlah yang bertugas melindungi dan menjaga kualitas hidup anak-anak kita. Kita hanya berusaha semampu kita.

Sekali lagi, jangan ambil tugas Tuhan.

Q  : Terima kasih, dok. Mengingatkan bahwa memang ada hal-hal di luar kuasa manusia. Memang susah buat saya menahan diri untuk tidak merasa bersalah ketika sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang dekat. Can’t help it. Will try harder. Matur nuwun, dok.

 

*************************

 

Q  : Dokter Widya, saya mengalami akumulasi stress dan sepertinnya sudah 3 tahun ini mengalami aritmia, deg-degan, kemudian tidak bisa mendengar suara kencang. Langsung lemas lunglai meski hanya suara guntur atau suara pesawat. Langsung sesak rasanya.

        Minggu lalu saya merasa aritmia parah kemudian sudah echo jantung tapi hasilnya normal. Kemudian diberi Kendaron oleh dokter. Tapi gejala deg-degan, sakit nyeri dada, sesak, masih tetap tidak hilang sampai sekarang. Apakah saya perlu cek tiroid atau cek apa lagi ya, dok? Kebetulan belum menemukan dokter yang nyaman untuk konsultasi. Terima kasih.

A  : Memang harus diperiksa betul-betul, terutama saat episode deg-degan itu datang. Apakah ada riwayat trauma seperti tersambar petir, dan sebagainya?

 

*************************

 

Q  : Saya sepertinya stress, tapi panjang sekali penyebabnya dan sudah tahunan, bakalan panjang kalau diceritakan. Sampai gastritis akut saya akhir-akhir ini kambuh, dan membuat sakit ulu hati setiap bernafas. Pernah juga sampai membuat saya pingsan. Yang pasti bukan karena anak-anak. Mereka memberikan saya tujuan hidup. Adakah rekomendasi psikolog yang tidak menghakimi dan bisa jadi pendengar yang baik?

A  : Sayangnya saya belum kenal banyak psikolog. Mohon maaf ya.

 

*************************

 

Q  : Dok, terkadang saya masih sesekali merasa bersalah jika terpikir akan kesalahan/kelalaian yang saya lakukan selama merawat anak. Kalau sudah begitu, susah sekali hilang dari pikiran. Sangat mempengaruhi fokus dan mood. Mohon tips-nya. Terima kasih sebelumnya.

A  : Problem-fixed phenomenon.

Masalah klasik yang membuat kita berfokus pada masalah dan bukan solusi. Ada buku bagus karya David Niven, Ph.D berjudul “It’s Not About The Shark” yang mengupas tuntas tentang hal ini.

Nanti kita bahas lagi. Sdkarang silakan googling dulu bukunya…

Q  : Baik, dok. Terima kasih.

A  : Bu, saya sempat sedikit buat reviewnya.

Buku yang saya baca adalah versi Indonesia dengan judul: “It’s Not About The Shark”. Terobosan baru dalam penyelesaian masalah.

Kisah pendahuluan yang diangkat dalam buku ini adalah tentang sebuah film berjudul Jaws yang merupakan satu dari sejumlah kecil film yang disimpan sebagai kekayaan budaya oleh Library of Congress.

Disutradarai oleh Steven Spielberg, awalnya film ini sekedar menyajikan masalah bagi para kru dan menimbulkan keraguan dari para eksekutif studio. Namun, sang sutradara tidak terpaku pada masalahnya. Dia melihat solusi. Hiu yang lebih mirip dengan marshmallow laut raksasa akhirnya mampu menghadirkan suasana mencekam yang tidak tertandingi.

Selain kisah hiu raksasa, David Niven mengulas berbagai kisah lainnya yang membuat kita menyadari bahwa:

Masalah, apa pun bentuknya (misal rasa takut, hal yang dianggap sebagai hambatan, dsb), tidak seharusnya berada di pusat pikiran kita. Mulailah berpikir tentang solusi.

 

*************************

 

Q  : Saya termasuk orang yang alhamdulillah jauh dari stress. Saya mengatasi stress dengan cara bersikap cuek terhadap masalah yang saya hadapi. Kalau punya masalah, saya melepaskannya dengan curhat ke orang yang saya anggap dekat. Setelah itu saya lega dan feel free banget. Dan saya akan selalu membuat diri saya happy dan selalu bersyukur dengan apapun yang saya hadapi. Dan it works, buat saya.

        Tapi masalahnya, suami saya adalah tipe orang yang sangat mudah stress dan itu yang bikin saya tidak nyaman. Hal kecil pun membuat dia stress. Bagaimana caranya membantu suami memgelola stressnya? Saya sudah banyak kasih masukan tapi dia tidak pernah mendengar dan ujung-ujungnya kami malah bertengkar. Saya juga sudah menyarankan dia untuk ke psikolog sejak kami baru menikah, tapi dia sendiri merasa dia tidak punya masalah. Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.

A  : Sekarang gantian, saya yang curhat.

Saya juga termasuk orang yang gampang stress. Saya punya mekanisme pertahanan jiwa immatur yang disebut displacement, silakan digoogling.

Menariknya, keluhan ini jauh berkurang setelah saya menikah. Mungkin karena istri saya orangnya lembut, kalem, dan ikhlas. Sehingga saya jadi jauh lebih tenang dan terarah.

Q  : Nah, kalau ini kan masalahnya dokter sudah sadar sendiri. Kalau saya berada di pihak yang ingin menyadarkan tapi yang mau disadarkan tidak merasa butuh disadarkan.

        Mungkin kuncinya tulus dan ikhlas ya. Ini yang harus saya tunjukkan. Susah untuk mengeluarkan jurus ikhlas kalau melihat kelakuan suami yang suka bad tempered kemudian stress sendiri dianya. Terima kasih, dok.

 

*************************

 

Q  : Dok, anak saya sudah pergi 1,5 tahun yang lalu. Tapi perasaan kehilangan dan kangen masih sering muncul. Saya memang berencana untuk memiliki anak lagi, tapi terkadang ada perasaan takut dan ragu. Bukan ke arah takut bagaimana kalau nanti mendapat anak spesial lagi, tapi lebih ke arah merasa takut kalau kelak saya “sedikit melupakan” almarhum anak saya karena ada anak yang baru. Terlebih ada perasaan bersalah karena merasa kurang berjuang semasa anak saya masih hidup. Saya tahu dan sadar perasaan dan pemikiran ini tidak benar, tapi terkadang muncul dan saya jadi menangis. What should I do, dok?

A  : Almarhum anak ibu pasti senang punya adik.

Ada yang namanya broken toy phenomenon, istilah untuk fiksasi seorang anak terhadap mainannya yang rusak sampai-sampai tidak mau mainan yang lain. Pada orang dewasa biasanya bermanifestasi dalam bentuk hubungan yang sifatnya terkadang obsesif dengan suatu objek, dalam kasus ini adalah almarhum anak ibu.

Let him go, bu. Tidak akan lupa sama almarhum anak ibu, malah makin sayang. Percaya deh.

 

*************************

 

Q  : Dok, aku tipikal orang yang kurang bisa membedakan simpati dan empati.

        Contohnya:

       Ada temen yang curhat, lalu aku pun terpengaruh, terhanyut dan memikirkannya secara berlebihan. Memikirkan karena aku kasihan, ikutan marah, ataupun ikut sedih berlebihan. Bahkan beberapa kali sampai mempengaruhi kehidupan pribadi. Efeknya, kalau aku merasa lagi mau fokus dan ribet dengan urusan pribadi, aku menutup diri untuk menerima cerita orang lain.

        Bolehkah bantu kasih tips agar aku bisa lebih selektif berempati dan bersimpati?

A  : Banyak berlatih, bu.

Ada orang-orang tertentu yang dianugerahi Tuhan dengan golden personality. Kepribadian yang dicari, dibutuhkan, dijadikan tempat curhat sama orang-orang. Boleh jadi disebabkan karena kepribadiannya yang klik sama segala macam orang.

Ibu punya golden personality. Sekali-sekali menutup diri boleh-boleh saja. Tapi jangan lupa mensyukuri anugerah tersebut dengan membantu sesama.

 

*************************

 

Q  : Dok, anak saya ada masalah dengan lidahnya yang pendek dan langit-langit yang tinggi sehingga dia susah untuk minum makan, jadi selama ini masih via NGT. Dia sekarang sudah berumur 1 tahun. Saya berusaha melatih via oral dengan menggunakan sendok, pipet, gelas, cup kecil, tapi tetap susah sekali. Kadang saya merasa stress, pengen nangis, pengen menyerah. Apa anak saya juga bisa merasakan stress yang saya rasakan, dok?

A  : Bisa. Oleh sebab itu, sarannya adalah: jalani dan nikmati. Saya tentu saja tidak bisa memahami seberapa sulit dan stressnya hal itu, makanya gampang sekali bilang ‘jalani dan nikmati’. Tetapi saya percaya ibu adalah wanita tangguh. Pasti bisa.

 

*************************

 

Q  : Apakah anak usia 11 tahun sudah boleh didoktrin dengan kata-kata berikut:

       “Kamu harus rajin belajar, harus pintar. Nanti kalau sudah besar dan papa mama sudah tua, kamu harus bantu adikmu. Kalau kamu tidak pintar sekolahnya,  bagaimana kamu bisa bantu adikmu kelak?”

       Apakah pertanyaan di atas boleh? Apakah tidak menimbulkan efek kurang baik pada anak usia 11 tahun yang buat dia makin stress? Terima kasih, dok.

A  : Kalau dia makin stress berarti tidak boleh. Anak harus dipacu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tapi tidak boleh terlalu stress.

 

*************************

 

Q  : Apakah ciri khas yang membedakan antara stress dan bipolar depresi?

A  : Wah, ini kuliah 3 sesi sendiri.

Secara singkat:

  1. Stress adalah kondisi mental dan fisik dimana seseorang gagal beradaptasi dengan stressornya.
  2. Depresi adalah sedih berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
  3. Bipolar adalah gangguan mood dan afek yang terdiri dari 2 episode: manik dan depresif.

 

*************************

 

Q  : Bagaimana cara kita mengatasi/menghindari depresi?

A  : Ada beberapa pendekatan teori mengenai depresi. Untuk ringkasnya, saya singkat saja ya?

  1. Apabila penyebabnya tidak jelas: pendekatan yang digunakan adalah neurohormonal dan neuropsikiatri. Penanganan yang diberikan cenderung lebih ke arah perbaikan gaya hidup dan obat-obatan golongan antidepressant.
  2. Apabila penyebab/stressornya jelas: pendekatan yang diberikan bisa menggunakan pendekatan psikologis berupa psikoanalisis, psikoterapi supportif, CBT, dan sejenisnya.

Ada juga yang namanya masked depression. Aktivitas sehari-hari tidak terganggu tapi muncul gejala klinis yang tidak dapat disembuhkan. Ini juga kasus menarik. Sebab proses menarik keluar stressornya saja butuh usaha yang gigih.

************************

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *