PENDIDIKAN INKLUSI BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

 

Narasumber: dr. Tri Gunadi

Dosen Vokasi Kedokteran Okupasi Terapi – Universitas Indonesia

Direktur YAMET Child Development Center

 

 

Q : Dok, saya tanya dulu ya, dok. Sebenarnya apa perbedaan sekolah inklusi dengan SLB?

A  : SLB disebut sekolah segregasi atau sengaja memisahkan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dengan anak anak reguler. SLB golongannya sama. SLB A adalah untuk penyandang tuna netra. SLB B adalah untuk penyandang tuna rungu. SLB C adalah untuk penyandang tuna grahita atau IQ dibawah rata rata, dll. Kalau sekolah inklusi justru menggabungkan anak anak spesial dengan anak reguler. Biasanya perbandingannya adalah 8 anak reguler dan 1 anak spesial. Tapi hati-hati ya, bu. Cari sekolah inklusi yang memang mengerti sistem inklusi dengan benar. Jangan hanya mengatakan bahwa sekolahnya adalah sekolah inklusi tapi tidak mengerti apa itu inklusi dan tidak menerapkan inklusi dengan benar.

 

*****

 

Q : Dok, anak saya penyandang CP (Cerebral Palsy) juga hearing loss, kira-kira sekolah yang tepat adalah sekolah inklusi atau SLB?

A  : Di dekat ibu ada sekolah inklusi yang siap menangani anak dengan disaudia atau tidak? Atau pernah menangani kasus disaudia. Kalau tidak ada, lebih baik ke SLB B yang memang sudah biasa menangani. Yang paling penting juga apakah sudah terapi AVT. Karena banyak anak yang sudah memakai ABD (Alat Bantu Dengar) dan terapi AVT bisa mengikuti sekolah inklusi atau bahkan reguler.

 

*****

 

Q : Sekolah inklusi ini apakah berdampak pada kejiwaan si anak spesial, dok? Karena mungkin pada awalnya akan ada resistensi dari anak reguler.

A  : Sekolah inklusi yang benar adalah win win solution buat semua. Anak reguler disiapkan untuk belajar perbedaan, empati, dll. Sedangkan anak spesial mendapatkan lingkungan dan contoh normal. Siswa reguler di sekolah inklusi disiapkan perilaku empati: no bullying, dll.

Biasanya hari-hari pertama masuk sekolah, anak reguler dan anak spesial belum digabung. Anak spesial di kelas transisi, sedangkan di kelas reguler disiapkan bahwa nanti akan ada anak teman  baru spesial.

 

******

Q : Salam kenal, dok. Anak saya usia 3 tahun. Penyandang Osteogenesis Imperfecta (tulang rapuh yang mudah patah). Sampai saat ini, anak saya belum bisa duduk sendiri. Target saya, anak saya sudah bisa sekolah di usia 6 tahun.

      Yang bikin saya galau, apakah anak saya akan lebih baik kalau disekolahkan di sekolah umum (seperti teman-temannya sesama penyandang OI) walaupun harus dengan kursi roda atau alat bantu lain? Dengan resiko harus siap mental dengan pandangan mata teman-temannya dan juga pengawasan ekstra karena tulangnya yang mudah patah kalau terbentur atau salah posisi. Ataukah akan jauh lebih aman, baik, dan maksimal kalau disekolahkan di sekolah inklusi?

A  : Tergantung ada tidaknya sekolah tersebut di masing-masing daerah. Kalau tidak ada sekolah inkkusi yang siap dan pernah menangani kasus fisik seperti OI atau CP atau Spina Bifida, ya jangan memaksakan ke sekolah inklusi tersebut. Lebih baik ke SLB D karena rata rata mereka sudah siap.

Q : Di SLB itu, jenjang yang harus dilalui sampai SMA ya, dok? Atau nanti bisa pindah ke sekolah umum di jenjang berikutnya?

A  : Iya, bu. Sampai SMA. Namun kalau SLB untuk pindah ke sekolah umum itu sulit, bu. Kalau ke sekolah inklusi masih memungkinkan.

Q : Kalau dari sekolah inklusi ke sekolah umum lebih mudah ya dok?

A  : Iya. Tahapannya kalau mau ke sekolah umum tidak bisa langsung dari SLB ke umum. Kecuali ada surat dari psikolog atau dokter.

 

*****

 

Q : Untuk anak yang akan masuk sekolah inklusi, apakah perlu menjalankan tes / tes IQ dulu? Dan bagaimana jika anak tersebut belum siap masuk sekolah inklusi, padahal umur terus bertambah. Apa yang perlu dilakukan?

A  : Test IQ dilakukan kalau anak berkenaan dengan gangguan inteligensia dan pendiagnosaan. Syarat masuk sekolah inklusi bukan test IQ, tapi adalah diagnosa yang dibawa dari psikolog atau dokter. Saran saya, terapi dengan benar dan sekolah berjalan bersamaan, bu.

 

*****

 

Q : Anak saya usia 4 tahun. PRS dan trach warrior. Jadi belum bisa komunikasi verbal, tapi dia bisa komunikasi non verbal. Saya berpikiran untuk homeschooling. Beda antara homeschooling dengan sekolah inklusi apa ya, dokter? Terima kasih.

A  : Homeschooling yang tunggal atau homeschooling yang bergabung di komunitas? Kalau tunggal, tidak disarankan. Tapi kalau homeschooling yang di komunitas itu bagus. Kalau di HS tunggal, kemampuan sosialisasinya dan komunikasinya tidak terasah.

Q : Begitu ya, dok. Tadinya saya pikir mau tunggal. Saya lupa memikirkan aspek sosialisasi karena fokus menjaga kesehatan anak saya saja, dok. Dengan inklusi akan sama atau berbeda ya metode pengajarannya, dok?

A  : Kalau homeschooling tunggal akan kasihan di kemampuan komunikasi, sosialisasi dan karakter, bu. Nanti malahan jadi seenak sendiri, disiplin kurang, dll.

Q : Iya, dokter. Seenak sendiri ini yang sekarang terjadi sama anak saya. Wah, PR sosialisasi dan komunikasi ya, dok.

A  : Makanya jangan hanya memandang dari salah satu aspek saja. Semua aspek harus dipertimbangkan.

 

*****

 

Q : Dok, keponakan saya adalah penyandang Apert Syndrome. Alhamdulillah keponakan saya pintar, cepat tanggap, percaya diri, ceria. Sama seperti anak seusianya. Hanya saja saya dan keluarga tidak tega menyekolahkan dia di sekolah umum seperti playgroup/PAUD/TK karena alasan fisik. Takut bullying dan akhirnya membuat keponakan saya menjadi tidak memiliki tingkat kepercayaan diri dan sikap ceria seperti sekarang. Tetapi untuk dimasukkan ke SLB pun, kami tidak tega karena menurut kami, keponakan saya seperti anak normal. Apakah sebaiknya keponakan saya masuk sekolah inklusi? Tolong rekomendasi sekolah inklusinya, dok.

A  : Sebenarnya sekolah mau SLB atau inklusi, kalau sekolahnya berbasis pendidikan moral dan karakter, maka muridnya sangat berkemungkinan kecil terjadi bully karena lingkungan dan pendidikan sudah disiapkan. Tapi masalahnya apakah sekolah yang dituju adalah berbasis karakter dan moral. Ibu tinggal di daerah mana? Tidak semua daerah punya sekolah inklusi yang bagus dan SLB yang bagus.

Q : Saya di daerah Kampung Melayu Jakarta Timur, dok. Lingkungan rumah saya mayoritas tidak berpendidikan tinggi, malah bisa dikatakan rendah. Kebanyakan anak-anak di sekitar sini bahkan mengolok-olok tentang fisik keponakan saya. Rencana akan kami sekolahkan di sekolah dengan tingkat ekonomi menengah ke atas karena kami beranggapan anak-anak yang orang-tuanya mampu dan berpendidikan pasti lebih dididik sopan santun dan saling menghargai oleh keluarganya. Jujur saja, saya sekeluarga takut keponakan saya jadi minder.

A  : Nanti klik di google, sekolah inklusi di Jakarta Timur ya. Keponakan ibu sudah operasi berapa kali tangan dan kakinya?

Q : Belum sama sekali, dok. Kami memutuskan untuk menerima keponakan saya apa adanya.

A  : Alangkah lebih baik terapi okupasi untuk fungsionalisasi tangan.

Q : Nanti akan saya coba bicarakan lagi. Jadi untuk keponakan saya lebih baik inklusi ya dibandingkan SLB dan reguler ?

A  : Yang jelas reguler, No. Inklusi pun pilih yang memang inklusi terpercaya.

Itu yang menyebabkan saya akhirnya buat sekolah namanya YAMET school. Satu-satunya sekolah inklusi berbasis 7 pilar moral dan 17 pilar karakter. Karena melihat kondisi pendidikan yang tidak banyak mengakomodir buat anak anak spesial. Tapi YAMET School baru ada di 4 daerah: Bali, Padang, Tanjung Balai Karimun, dan Lampung.

Q : Oke, dok. Saya akan coba cari sekilah inklusi di sekitar saya.

 

*****

 

Q : Kapan YAMET School ada di Jakarta, dok

A  : YAMET School di area Jakarta direncanakan akan di wilayah Cibubur.

 

*****

 

Q : Salam kenal, dok. Saya adalah ibu dari anak dengan Apert Syndrome. Sudah sekolah di sekolah inklusi tapi masuk kelas reguler, dok.

A  : Pantau terus fine motor skill dan kemampuan koordinasi motoriknya ya, bu. Karena takutnya mengalami stress di area tersebut.

Q : Itu yang saya takutkan, dok. Karena saya tadinya bermaksud memasukkan ke kelas inklusi, tapi ternyata dari pihak sekolah memasukkan ke kelas reguler. Dia kesulitan saat menulis. Solusinya bagaimana ya, dok? Kami dari Cilacap, Jawa Tengah.

A  : Assessment untuk kemampuan motorik halus dan koordinasinya, bu. Datang ke klinik tumbuh kembang seperti YAMET. Nanti akan dilatih kemampuan pengejaran ketinggalan usia motorik halus dan koordinasinya. Kemungkinan sekolah inklusinya tidak punya psikolog, bu. Jadi asal prediksi masuk kelas reguler tanpa memikirkan masalah-masalah yang akan dihadapi pada kasus Apert Syndrome atau malahan sekolah tidak paham juga apa itu Apert Syndrome dan musti apa.

Q : Apakah anak Apert Syndrome sebaiknya memang masuk kelas inklusi, dok?

A  : Kalau kondisi jari sudah dipisahkan dan fungsi tangan berfungsi dengan baik, harusnya tidak perlu inklusi dan reguler juga bisa mengikuti.

Q : Jarinya memang sudah dipisah, dok. Tapi masih kesulitan untuk menulis.

A  : Memang biasanya lewat berkali-kali operasi untuk hasil yang maksimal. Dan perlu terapi untuk latihannya. Namanya terapi okupasi.

 

******

 

Q : Selamat malam, dok. Saya adalah bunda dari penyandang Moebius Syndrome. Kami baru pindah ke Jambi. Untuk sekolah, kami masih proses pencarian untuk yang benar-benar siap menerima kondisi anak saya. Saat ini kondisinya kurang bisa mengontrol tenaga (tidak mau mengeluarkan tenaga padahal kuat), keseimbangannya juga masih kurang bisa mengontrol dan masih kesulitan bicara. Dari terapis tumbang sebelumnya menyarankan untuk melanjutkan ke terapi okupasi. Apakah dokter ada rekomendasi tempat terapi okupasi di daerah Jambi? Terima kasih, dok.

A  : Kalau kondisi seperti itu memang harus mendapatkan sekolah inklusi untuk meningkatkan kemampuan kontrol gerak dan power coordination. Harus dapat okupasi terapi untuk latihan motorik halus dan kemandirian. Terapi wicara untuk bicara dan bahasa, kemampuan ekpresi wajah. Terapi ABA VB untuk kemampuan konsep dan bahasa perilakunya.

Terapi di Jambi yang saya kenal hanya tempat terapi Yayasan Bunga Bangsa Jambi beralamat di jalan Rb. Siagian no. 81 Simpang Taman PKK Thehok-Jambi 36138 Tlp.0741-7555032.

Q : Terapi ABA VB itu bagaimana ya, dok?

A  : Konsep yang akan dibutuhkan dalam bicara. Kosa kata benda, kata kerja, kata sifat, dll.

Q : Maaf tanya lagi, dok. Apakah terapi-terapi yang dokter sarankan merupakan satu rangkaian? Dan biasanya ada di 1 tempat?

A  : Di daerah mana, bu? Kalau di YAMET, kami lengkap ada semua.

Q : Berarti tergantung fasilitas yang disediakan oleh tempat terapi ya? Kami di Jambi, dok. YAMET belum ada rencana buka di Jambi kah, dok?

A  : Iya, bu. YAMET baru 30 cabang saja. Di Sumatra baru ada di Lampung, PKU, Padang, Batam, Tanjung Pinang, dan Tanjung Balai Karimun.

 

*****

 

Q : Anak saya usia 6 tahun. Saat ini TK B di sekolah reguler. Saya mencari-cari yang dekat dengan rumah dan mengobrol dengan kepala sekolahnya. Alhamdulillah dengan bimbingan para guru, anak saya berkembang baik. Dia bisa menyebut dan menghapal nama teman-teman sekolah, mau membawa barang-barangnya sendiri. Goal-nya memang tidak disamakan dengan anak-anak lain, sehingga rapot milik anak saya pun berbeda dan lebih berupa narasi hasil observasi. Selain sekolah, masih juga rutin terapi wicara dan okupasi.

      PR saya adalah menemui psikolog untuk berkonsultasi apakah anak saya bisa lanjut ke sekolah dasar atau belum, apakah juga ada intelektual disabilitas. Apakah langkah ini sudah benar?

      Pertanyaan saya, apakah dr. Tri gunadi mengetahui sekolah inklusi di daerah Bogor, juga psikolog di Bogor yang juga menyediakan tes IQ? Terima kasih.

A  : Langkah ibu sudah benar. Tapi itu memang nampak mudah sekolah melakukan karena masih fase TK, bu. Yang sangat sulit memang adalah mencari sekolah yang tepat di level sekolah dasar. Ibu bisa di Azra atau Hermina. Mereka punya psikolog semua.

Q : Betul, pak. Saya khawatir karena fase SD tentunya jauh berbeda dengan fase TK. Saat ini di usianya dia baru bisa merangkai 4-5 kata. Inisiatif untuk mulai berbicara sudah mulai ada.

A  : Makanya kita harus memberikan bekal cukup, bu. Apalagi kalau mau SD. Siapkan 5 syarat masuk SD.

Q : Noted. Terima kasih, dok.

      1 lagi boleh? Untuk ABK ini apakah goal yang diinginkan dengan sekolah inklusi? Apakah untuk bisa mandiri, menemukan bakatnya, bersosialisasi? Apakah boleh kita mendiskusikan goal-goal ini kepada sekolah ataukah sekolah biasanya sudah memiliki program untuk ABK?

A  : Justru itu yang dilakukan di sekolah inklusi. Goal sesuai dengan anak. Namanya ZPD (Zone Proximal of Development). Target pencapaian akan dibuat dalam bentuk IEP (Individual Educational Program) atau PPI (Program Pembelajaran Individual). Dan akan lebih ke arah kemandirian dan multiple inteligence (kecerdasan majemuk). Bakat minat akan tergali.

Q : Sip. Ini poin yang penting sekali. Terima kasih banyak, dok. Karena beberapa tempat yang mengaku inklusi, ternyata hanya sekedar menerima. Tidak ada program khusus bagi mereka.

      Karena kalau hanya sekedar ikut sekolah saja, saya khawatir waktunya jadi kurang bermanfaat. Karena dia mungkin tidak bisa dinilai dengan IPK/nilai. Jika di sekolah bisa membantu untuk mengarahkan mempersiapkan masa depannya akan lebih baik, dok.

A  : Mohon bagi sekolah yang mengaku inklusi, silahkan diberikan makalah saya tadi. Apakah sudah inklusi yang benar bisa dilihat dari indikator-indikator keberhasilan sekolah inklusi yang tadi ada di makalah saya tadi. Kalau perlu bantu benahi utk menjadi inklusi yang benar.

 

*****

 

Q : Selamat malam, dr. Gunadi. Saya adalah ibu dari Odalangka Mc Albright Syndrome. Anak saya sudah mulai masuk SD umum tetapi teman-temannya melihat anak saya dengan tatapan yang aneh, karena setelah jatuh tahun lalu kakinya sulit untuk dibuat berjalan (pincang). Dan setelah saya jelaskan ke guru-gurunya kalau anak ini special, gurunya menjadi agak takut mengajar. Alhasil setiap kali ada kegiatan di luar, anak saya selalu ditinggal di dalam kelas karena gurunya takut kalau anak saya jatuh. Pertanyaan saya, apakah saya sudah tepat menyekolahkan anak saya di SD umum? Terima kasih sebelumnya.

A  : Sekolah umum yang tidak mengerti penanganan inklusi bagi anak Mc Albright Syndrome malahan bumerang. Takutnya ada bully soal kulit yang beda, dst. Paling tidak, ibu harus kerja keras mengubah sekolah reguler tersebut untuk mengkampanyekan tentang anak spesial terutama Mc Albright Syndrome, pendidikan inklusi, dan pendidikan karakter. Supaya menghindarkan pada persepsi yang salah dan bully.

Q : Solusi selajutnya bagaimana ya, dok? Karena di tempat saya belum ada pendidikan inklusi. Saya kira cuma ada SLB saja.

A  : Kalau memang tidak ada, jangan mengharapkan durian runtuh dari langit. Ibu-ibu semua adalah orang tua hebat yang mampu menjadi agent of change. Belajar sebanyak-banyaknya soal diagnosa anaknya dan share ke guru-guru dan parenting di sekolah. Kalau perlu malahan menghadirkan ahli di sekolah tersebut. Buat yang tadinya sekolah reguler, untuk kepala sekolah dan para gurunya terketuk untuk menangani anak spesial. Karena sebenarnya kuncinya adalah mempunyai hati untuk mengajar. Karena mereka sudah punya background pengajar atau pendidik.

 

*****

 

Q : 

      Syarat no.5 akademis, maksudnya bagaimana ya?

A  : Akan harus mempunyai potensi akademik dasar. Misal mampu perilaku duduk dan menyukai aktivitas akademis baca tulis hitung. Makanya meskipun anak kita adalah ABK, tapi kalau bisa tetap menyukai buku meskipun kita bacakan atau membolak balik halaman buku karena gambarnya.

 

******

 

Q : Di Padang dimana ya, dok? Saya domisili di Sumatra Barat.

A  : Padang lokasinya di depan Hotel Brasko, bu.

 

******

 

Q : Dok, mau tanya. Kan anak saya (MAS) sudah masuk toddler class sejak April. Baik-baik saja, Alhamdulillah speech delay dan stuttering sudah lebih teratasi. Nah, masalahnya masuk habis lebaran, dia dapat satu set teman baru. Yang awalnya rasa percaya diri sudah tumbuh, langsung seperti ciut lagi. Kayaknya sih karena sekelas hampir semua laki-laki dan super lincah. Sementara anak saya pakai pelindung kaki dan masih didampingi untuk kontrol gerak.

      Apa baik kalau masih diteruskan? Kawatir percaya dirinya makin ciut. Tadi pagi tahu-tahu nangis tanpa sebab saat menjelang masuk. Gurunya sih selalu mencoba menjelaskan ke murid lain bahwa pelindung kaki anak saya itu hal yang wajar.

A  : Sebenarnya cari sekolah yang muridnya sedikit dan gurunya mau menangani dengan hati. Kemudian guru harus tahu langkah-langkah yang benar. Sepertinya salah dalam mendidik anak-anak lainnya. Seharusnya bukan mengatakan bahwa pelindung kaki itu hal yang wajar. Yang perlu ditekankan pada anak yang lain adalah meningkatkan moral pilar. Ada 7 moral pilar, yaitu:

  1. Empati : bahasa anaknya adalah kalau mau dibantu harus membantu, kalau tidak mau diejek jangan mengejek.
  2. Hati nurani: setiap anak tahu mana perbuatan baik atau buruk.
  3. Kontrol diri: mengontrol untuk tidak mengejek, marah, emosi, dll.
  4. Toleransi
  5. Kindness
  6. Fairness
  7. Respect

Q : Yang teman-teman di kelas lama Alhamdulillah baik, dok. Ini tahun ajaran baru, anak saya dapat kelas baru yang benar-benar murid baru semua. Rasio guru 3 guru untuk max 10 siswa. Anak saya sengaja tidak dinaikkan level kelasnya dulu. Selain usia juga belum masuk, masih adaptasi juga. Teman-teman lamanya naik level ke PG besar. Saya masih ikut mendampingi dalam kelas.

 

*****

 

Q : Dok, bukalah sekolah di Malang, supaya kita tidak bingung harus kemana.

A  : Di Malang ada PLA: Pusat Layanan Autis yang akhirnya menangani segala macam ABK. Ada yayasan-yayasan yang bergerak di ABK lumayan banyak kok.


 

CLOSING STATEMENT

Yang jelas buat penanganan anak-anak spesial adalah:

  1. Tangani masalahnya
  2. Pengobatan medis nomer 1, setelah itu baru yang lainnya.
  3. Intervensi dini atau terapi langkah berikutnya.
  4. Intervensi lanjutan atau pendidikan harus hati-hati.

 

THE RIGHT CHILDREN IN THE RIGHT PLACE

Cari sekolah yang tepat buat anak spesial kita.

Sekolah yang memanusiakan manusia.

Sekolah yang sesuai.

Semangat terus.

Menjadi orang tua spesial memang harus tahan banting.

Bisa segalanya demi anak spesialnya.

Semangat terus bapak ibu semua

 

 

Editor: KKP

Featured Image Source: https://freeclipartimage.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *